Ketika kita bicara pembangunan ekonomi, bayangan yang muncul biasanya adalah pabrik besar, investor asing, atau jalan tol yang membentang ratusan kilometer. Tetapi di balik riuhnya pembangunan skala nasional, ada ruang-ruang kecil di desa yang menyimpan energi perubahan yang tak kalah besarnya. Desa, yang sering dianggap sekadar penyumbang pangan dan tenaga kerja, sebenarnya menyimpan potensi lain, ia bisa menjadi pusat lahirnya inovasi sosial dan ekonomi.
Desa Sungai Petai di Kabupaten Kampar, Riau, adalah salah satunya. Dari desa yang berada di jalur lintas antar provinsi, lahir sebuah gagasan yang bisa saja menjadi inspirasi nasional. Namanya sederhana, 1 RT 1 Pelaku Usaha. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada mimpi besar dari kepala desa mereka, Rian Adli. Mimpi bahwa kemandirian ekonomi bangsa bisa tumbuh dari hal sekecil sebuah Rukun Tetangga (RT).
Ekosistem Kewirausahaan: Lebih dari Sekadar Membuka Usaha
Dalam dunia akademik, kita mengenal istilah ekosistem kewirausahaan, yaitu sebuah tatanan di mana usaha kecil tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang jaringan, regulasi, sumber daya, dan solidaritas sosial. Di desa, ekosistem ini berarti lembaga-lembaga desanya aktif, kelompok masyarakatnya kompak, akses pasar terbuka, dan budaya gotong royong kembali dihidupkan.
Rian Adli menangkap itu. Ia paham, satu-dua orang berusaha saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah komunitas wirausaha yang bisa saling menopang. Karena itu, ia meletakkan standar yang jelas, di setiap RT harus ada minimal satu pelaku usaha. Dengan begitu, ekonomi desa tidak lagi semata konsumtif, tetapi mulai bergerak ke arah produksi.
Bayangkan jika tiap RT punya wirausaha: ada yang membuat keripik singkong, ada yang beternak lele, ada yang membuka bengkel kecil, ada yang menjual produk digital. Lalu mereka saling membeli, saling belajar, bahkan saling bersaing sehat. Di situlah roda ekonomi mulai berputar dari dalam, bukan menunggu dari luar.
Namun Rian tahu, tantangan terbesar bukan soal uang atau fasilitas, tetapi soal cara berpikir. Di banyak desa, warga sudah terlalu lama terbiasa menunggu bantuan. Bagi sebagian orang, menerima bantuan dianggap lebih aman daripada mencoba usaha yang belum tentu berhasil.
Di sinilah letak keberanian Rian. Ia tidak segan mengatakan: “Kalau jumlah penerima bantuan sosial di desa ini bertambah, berarti saya gagal.” Sebuah kalimat yang menohok, tetapi sekaligus membangkitkan kesadaran. Ia menggeser ukuran keberhasilan dari berapa banyak yang menerima bantuan, menjadi berapa banyak warga yang bisa mandiri.
Perubahan mindset ini ia dorong bukan hanya di forum resmi, tetapi juga di ruang-ruang sehari-hari, seperti obrolan di warung kopi, pengajian malam, atau pertemuan RT. Ia bicara dengan bahasa sederhana: “Kalau kita bisa usaha, kenapa harus selamanya menunggu?” Perlahan, warga mulai melihat bahwa kemandirian bukan ancaman, melainkan martabat.
Mindset yang berubah harus ditopang dengan struktur yang kokoh. Untuk itulah kelembagaan desa ditempatkan sebagai tulang punggung. Rian Adli menolak melihat pelaku usaha sebagai individu yang berjalan sendiri. Ia lebih suka menyebut mereka bagian dari jaringan ekonomi desa.
Produk warga, entah itu pisang sale, madu hutan, atau kerajinan tangan, tidak berhenti di pasar lokal. Melalui strategi yang matang, produk itu bisa dikemas lebih baik, dipasarkan lebih luas, bahkan diberi nilai tambah. Modal usaha pun tidak dibiarkan cair begitu saja lalu habis untuk konsumsi, tetapi dikelola dengan baik agar berputar dan berjangka panjang. Dengan begitu, usaha-usaha kecil tidak hanya lahir, tetapi juga bertahan dan berkembang.
Desa Sungai Petai sudah lebih dulu dikenal sebagai desa digital. Dari situ, Rian melihat peluang untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperluas pasar. Anak-anak muda yang luwes dengan media sosial ia libatkan sebagai motor pemasaran digital.
Sinergi antar-generasi pun tercipta. Orang tua tetap fokus pada produksi, sementara anak-anak mereka mengurus foto produk, unggahan di marketplace, atau promosi di Instagram. Dengan cara ini, desa kecil di tepian Sungai Kampar itu punya jendela yang terbuka ke dunia luar.
Tentu saja, jalan tidak selalu mulus. Masalah klasik muncul, seperti modal habis untuk konsumsi, kecemburuan siapa yang lebih dulu dapat bantuan, hingga kegagalan usaha yang membuat semangat kendor.
Rian menghadapi itu dengan pendekatan partisipatif. Pelaku usaha pertama bukan orang yang ditunjuk oleh kepala desa, melainkan warga RT yang memutuskan. Program pun dibuat bergulir, setelah satu usaha stabil, lanjut giliran orang lain. Dengan begitu, rasa keadilan tetap terjaga.
Lebih jauh, Rian Adli menekankan pentingnya pendampingan jangka panjang. “Bukan pelatihan sehari, lalu selesai,” begitu ia sering mengingatkan. Ia tahu, yang paling menentukan bukan ide usaha, melainkan konsistensi melewati masa-masa sulit. Karena itu, warga tidak hanya dilatih, tetapi juga ditemani.
Jika dilihat dari perspektif nasional, gagasan ini sederhana tapi revolusioner. Bayangkan, di Indonesia ada lebih dari 74 ribu desa. Jika setiap desa menumbuhkan ratusan pelaku usaha baru, maka jutaan UMKM akan lahir, bukan dari kota besar, tetapi dari desa.
Model ini tidak rumit: berbasis RT, memanfaatkan potensi lokal, dikelola kolektif. Tetapi dampaknya bisa sangat besar. Inilah bedanya dengan program bantuan sosial. Bantuan bisa mengurangi lapar hari ini, tetapi kewirausahaan mengubah nasib bertahun-tahun ke depan.
Apa yang dilakukan Rian Adli di Sungai Petai adalah pengingat bahwa desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang mampu melahirkan inovasi. Program 1 RT 1 Pelaku Usaha membuktikan, perubahan tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan; ia bisa dimulai dari tepian sungai, dari sebuah RT kecil, dari keberanian seorang pemimpin desa.
Jika desa-desa lain menyalakan api yang sama, Indonesia tidak hanya punya jalan tol dan gedung tinggi, tetapi juga fondasi ekonomi rakyat yang kokoh, tumbuh dari bawah, mengakar di tanah sendiri, dan menyalakan cahaya ke seluruh negeri.
#Bumdes