Senin, 02 Februari 2026

Dari Balik Jeruji, Abdul Wahid Bersumpah atas Nama Tuhan: "Saya Bukan Pelaku, Saya Dijadikan Korban"

Dari Balik Jeruji, Abdul Wahid Bersumpah atas Nama Tuhan:

JAKARTA — Malam di balik tembok dingin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak hanya menyekap tubuh, tetapi juga mengguncang batin. Dari ruang sempit itulah Abdul Wahid menuliskan surat yang kini menggetarkan perasaan banyak orang di Riau. Bukan sekadar pembelaan hukum, melainkan jeritan nurani yang dibalut sumpah atas nama Tuhan.

Dengan tulisan tangan yang tegas namun sarat emosi, Abdul Wahid membuka pengakuannya dengan permohonan maaf. Ia mengaku hancur melihat kegaduhan yang menyeret keluarganya, anaknya, dan masyarakat Riau ke pusaran opini publik. Namun setelah kalimat maaf itu, nada surat berubah—tajam, getir, dan penuh perlawanan.

“Wallahi, Billahi, Tallahi. Saya tidak pernah meminta sepeser pun uang dari ASN. Saya tidak pernah mengancam siapa pun,” tulisnya.

Sumpah itu bukan sekadar kata. Bagi Abdul Wahid, sumpah adalah benteng terakhir kehormatan. Ia mengaku heran, bahkan terluka, ketika namanya perlahan dibentuk menjadi simbol utama kejahatan, sementara dirinya merasa tak pernah menyentuh uang, tak pernah hadir di pertemuan, dan tak pernah memerintahkan apa pun.

Ia juga membantah tudingan soal uang yang disita KPK dari rumahnya. Dengan nada seorang ayah, Abdul Wahid menulis bahwa uang itu adalah tabungan keluarga—disimpan untuk biaya pengobatan anaknya. Tuduhan bahwa uang tersebut hasil kejahatan disebutnya sebagai pukulan paling kejam terhadap martabat keluarga.

“Jika sumpah ini dusta, biarlah Allah yang mengadili saya,” tulisnya, menutup pengakuan dengan kutipan ayat suci.

Yang membuat surat ini semakin mengoyak perasaan publik adalah pengakuan tak langsung soal Operasi Tangkap Tangan (OTT). Abdul Wahid menyiratkan bahwa dirinya tidak ditangkap bersama uang atau di lokasi transaksi. Ia menyebut penangkapannya terjadi belakangan, saat narasi sudah terlanjur dibangun dan opini publik sudah menghakimi.

Di titik inilah emosi surat mencapai puncaknya: perasaan dijadikan tumbal. Seolah ada sosok yang harus ditampilkan sebagai pelaku utama, dan namanya dipilih untuk menenangkan kemarahan publik.

Surat itu kini beredar dari ponsel ke ponsel, dibaca dengan perasaan campur aduk—antara empati, curiga, dan kemarahan. Sebagian warga melihatnya sebagai jeritan orang terzalimi, sebagian lain menganggapnya sebagai upaya menggiring simpati.

Namun satu hal tak terbantahkan: surat ini mengoyak ketenangan. Ia memaksa publik bertanya, bukan hanya tentang hukum, tetapi tentang keadilan, keberanian, dan siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik layar.

Di hadapan hukum, sumpah tak otomatis menjadi bukti. Tetapi di hadapan nurani publik, sumpah atas nama Tuhan adalah taruhan paling mahal—dan Abdul Wahid memilih mempertaruhkannya dari balik jeruji besi. (*)

#gubernur riau ##Surat Abdul Wahid #Sumpah Abdul wahid